Bangsa yang Maju Pendidikannya
*G I T A R A N : Bangsa yang Maju Pendidikannya*
_(Bagian III, Habis)_
oleh: L. Arthur Sahelangi
_*"The foundation of every state is the education of its youth"*_
Landasan dari setiap negara adalah pendidikan bagi pemudanya. Hal itu telah disampaikan oleh Diogenes - seorang penulis Yunani pada abad ketiga sebelum Masehi.
Dalam hal musik, negara yang mempunyai landasan musik klasik yang kuat kebanyakan adalah negara maju. Demikian juga dengan orang Jepang. Mereka dapat membaca notasi standar sejak dari pendidikan Taman Kanak-kanaknya. Beberapa ekspatriat Jepang yang pernah bertugas di luar Jepang, seperti dari Eropa, dan Amerika Latin pernah gitaran dengan saya. Dan mereka semua bisa menyanyi. Bahkan seorang mantan direktur Yamaha pernah berkata bahwa, sejak kecil dia tidak suka menyanyi, namun sampai sekarang dia masih bisa dan hafal menyanyikan tangga-nada C mayor serta beberapa lagu anak-anak! Dari hal ini dapat dilihat betapa seriusnya pendidikan dan pendidikan musik di sana.
Semua guru Yamaha jika pergi seminar ke Jepang, pasti setengah hari pergi meninjau kelas anak-anak kecil (usia 4-6) di sana. Dari ruang khusus dengan cermin satu arah (seperti di kantor detektif) kita dapat melihat kesenangan mereka dalam bermain musik. Saya pernah melihat keceriaan anak-anak usia 4-5 membawa sendiri _radio tape-recorder_ besar ( _Walkman_ Sony belum muncul) masing-masing, lalu atas petunjuk guru, mereka merekam permainannya dengan gembira.
*Bagaimana di sini?*
Sistem pendidikan musik Yamaha adalah siswa harus datang ke lokasi Yamaha. Bukuteks Yamaha tidak boleh dipergunakan keluar. Awal tahun 2.000 Yamaha bermaksud untuk memberikan kursus musik gratis bagi para guru SMP sekolah formal di sini. Dimulai dengan di Jakarta dan Bandung. Maka manajemen minta saya untuk menyiapkan bukuteks gitar - yang saya beri judul: Metoda Gitar jilid 1. Buku mana diterbitkan oleh Yayasan Musik Indonesia (YMI).
Saya diminta untuk mengundang 50-70 sekolah di Jakarta untuk menghadiri peresmian acara itu. Ada seorang Wakil Direktur Musik minta agar aku juga menyertakan bukuteks dalam undangannya. Aku menolak. Dia berkeras, di Jepang, katanya bila ada perusahaan mau mempromosikan kompor baru, misalnya, maka setiap undangan dikirimi panci. _[ Wadauw.. kalau di sini pancinya diambil dan gak ada yang datang, bléh]_
Aku putuskan untuk mengundang 20 SMP dulu di Jakarta Selatan. Yamaha menyediakan makan siang prasmanan dari The Papilon berikut para pelayannya untuk 120 orang! Yang hadir hanya 11 orang dari 6 sekolah: 7 pak guru dan 4 ibu guru.
Saya tanyakan, siapa yang sudah bisa main gitar? Yang mengangkat jari telunjuk 6 orang. Yang lain? Ada ibu-ibu guru prakarya. "Mengajar apa, bu?" _"Membuat pulau-pulau di Republik Indonesia dari koran-koran bekas"_
"Pernah main gitar?" _"Enggak."_ "Kenapa datang?" _"Kan diundang. Siapa tahu dikasih les gitar gratis"._ Wadidauww.. Akhirnya satpam dan para supir ikutan hepi menyantap The Papilon!
*Seminar di Bandung*
Aku ditugaskan memberi seminar kepada beberapa guru SMP di Bandung Selatan. Programnya dua setengah hari seminar. Yang hadir 30 guru. Gitar dipinjami oleh sekolah musik Yamaha Bandung.
30% pesertanya ibu-ibu guru yang baru pertama kali memegang gitar. Pembukaan diawali dengan pidato Kepala Sekolah, dan Kepala Kantor Wilayah Depdikbud Jawa Barat. Pidatonya dalam bahasa Sunda selama 40 menit. Sesi pertama seminar tinggal 80 menit. Suasananya full berisik! Para guru pria memetik dengan kuat. Ingin memikat para ibu. Pada sesi kedua setelah makan siang, beberapa ibu guru melototkan matanya. Aku tahu mereka marah, jari-jarinya sakit. Maka aku ajak mereka menyanyikan melodi lagunya. Yang melotot pun berkurang. Hari kedua, para ibu guru yang duduk di deret depan tidak lagi mau memegang gitar. Mereka menolak sambil menyahut, "Sakit tau!"
*Pentingnya Seni*
Beberapa waktu yang lalu ada seorang Wakil Presiden berbicara tentang pentingnya teknologi. Sesungguhnya Eropa itu awalnya dibangun dengan seni: pahatan, patung, musik, sastra, lukisan, tarian, drama, dll pada era Renaisans 500 tahun yang lalu. Bukan dengan teknologi! Maka bangsa mereka pun maju. Teknologi datang menyusul kemudian.
Bangsa Jepang juga menyadari seni sebagai dasar pembentukan karakter bangsa. Saya tidak tahu apakah mereka mengenal Diogenes, Phytagoras, Aristoteles, dll. Tetapi seperti kata Onishi-san dan Watanabe-sensei, bangsa mereka maju karena jasa para _shogun_ (gubernur) pada awal Restorasi dan para pejabat di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Integritas: kemampuan untuk bersatu serta jujur, disiplin, mentalitas, ketekunan, keuletan dan juga kekuatan - jika tidak bisa dikatakan keperkasaan mereka sungguh luar-biasa.
Ada seorang CEO Yamaha yang menjelang purna tugasnya di sini pada 1984 memanggil saya. Beliau minta agar saya menulis tentang pengalaman dan kesannya selama ini pada buletin YMI. Menurutnya RI adalah negeri yang amat kaya akan sumber-sumber alam yang berlimpah - baik di darat maupun di laut. Sedangkan Jepang tidak memiliki sumber alam apapun. Negerinya pun sering dilanda gempa bumi, bencana alam, dll. Maka mereka harus bekerja keras untuk bertahan hidup.
Keperkasaan mereka bisa kita lihat dari penyelenggaraan Olimpiade - Pesta Olahraga Internasional yang telah diselenggarakannya.
Mereka telah empat kali sukses menyelenggarakan Olimpiade: *TOKYO 1964, SAPPORO 1972, NAGANO 1998, dan TOKYO 2020!*
Artinya Jepang telah melaksanakan empat kali Olimpiade (1964-2020) dalam waktu 56 tahun! Dan yang luar-biasa Olimpiade pertama TOKYO 1964 mereka selenggarakan _hanya_ setelah 19 tahun sebelumnya Hiroshima dan Nagasaki hancur luluh-lantak oleh bom atom USA pada 6 dan 9 Agustus 1945!! Hanya dalam 19 tahun bangsa mereka dipercaya oleh Badan Olahraga Dunia (IOC), juga kemampuan pendanaannya.
*Guru*
Ada dua profesi di Jepang yang dipanggil _sensei,_ atau guru. Panggilan ini ditujukan hanya kepada dokter medis dan ... guru musik! Seorang manajer senior yang pernah lama tinggal di Jepang berkata, "Tugas utama seorang dokter adalah menolong pasiennya. Begitu pula tugas seorang guru musik adalah menolong orang. Yang pasti profesi sebagai guru dan guru musik termasuk profesi yang dihormati di sana."
LAS/ September 2021
Komentar
Posting Komentar