YAMAHA SOUTH EAST ASIAN GUITAR FESTIVAL 1983 in Bangkok
YAMAHA SOUTH EAST ASIAN GUITAR FESTIVAL 1983 in Bangkok
( Bagian IV - Habis)
ALFRED EUGENE
Kemenangan Albert Eugene,18 dari Pematang Siantar, Sumatera Utara meraih Juara Bagian Klasik pada Festival Gitar Yamaha di Semarang, merupakan kejutan, karena tekniknya yang tinggi. Saya menulis di "FORUM MUSIK" - media interen YMI edisi November 1982 bahwa Alfred memiliki ide, kecepatan, kekuatan, stamina, kepekaan, intelektualitas serta bakat - semua persyaratan yang umumnya hanya terdapat pada pada diri gitaris internasional.
Kemudian ketika dia telah menjadi juara Asia Tenggara di Bangkok, dia berkata, bahwa dia ingin terus belajar lagi. "Siapa guru yang abang rekomendasikan?"
"Menurut aku, sudah tidak ada guru lagi di Asia yang harus kau datangi."
"Jadi saya harus cari ke mana?"
"Coba kau ke London. Carilah Maestro Julian Bream. Mungkin beliau tertarik dan bisa memberi saran. Dia pasti amat sibuk dengan jadual konsernya."
Seminggu kemudian, saya menerima telepon di rumah pada malam hari dengan nada keras: "Hei, Arthur! Ini papanya Alfred dari Pematang Siantar. Jangan kau ajar-ajari anakku untuk pergi ke luar negeri. Dia masih kecil. Maminya tidak setuju. Tak usah kau suruh-suruh dia ke luar negeri. Tidak bisa!" "klik", sambungan telepon diputus.
[ Iyeh .., anak kecil? Belum tahu dia - si kecil sudah bisa menghilang ke griya pijat di Hotel bintang lima Bangkok. Dan membuat semua orang panik mencari dia! ]
Tak ada penjelasan apapun dari Alfred. Setahun kemudian saya mendengar bahwa dia kuliah di Singapura, kata Samsuddin Acong - guru piano di Medan yang ikut ke Bangkok.
Waktu itu saya dan beberapa rekan guru di jalan Bumi berlangganan majalah bulanan "Guitar International" dari Dorset, Inggris. Kemudian saya menulis artikel pendek tentang Festival Gitar Yamaha Bangkok plus 1 lembar foto. Mengejutkan!!! Artikel itu dimuat dalam penerbitan mereka edisi Februari 1984. Segera aku kirim fotokopinya ke Bangkok dan Tokyo! Semua senang.
KEJUTAN BERLANJUT
Tahun 1991 saya mengajar kembali di YMI jalan Bumi - yang sebelumnya pernah ditutup sementara untuk renovasi.
Ada seorang ibu yang mengantar puteranya untuk les. Suatu hari dia bertanya: "Boleh saya ikut masuk ke dalam kelas, pak?"
"Silakan, bu."
Dia duduk di dekat jendela, lalu berkata: "Ari-ari saya ada ditanam di taman kecil di luar itu", sambil menunjuk ke luar jendela.
"Oh, rumah ini dulu adalah rumah orangtua Anda?"
"Benar, dulu ini adalah rumah ayah."
"Boleh tahu nama ayah?"
"Soebambang."
"Marsekal Angkatan Udara?" Dia mengangguk.
"Pernah menjadi Duta besar RI di Bangkok, Thailand?"
"Benar," katanya.
"What a surprise! It's really a small, small world," jawabku
Lalu saya ceritakan tentang para juri harus berjalan permisi lewat di depan ibu dan ayahnya. Dia tertawa. "Nanti saya sampaikan kepada mereka."
Minggu depannya saya berikan foto-foto YSEAGF, lalu seminggu kemudian dia berkata, "Papa senang dan berterimakasih atas foto-fotonya. Juga salam dari papa."
Beberapa waktu sebelumnya, Alfred datang ke gedung Yamaha dengan menggandeng seorang cewek. "Hei Juara! Makin mantap saja kau ini," kataku.
Dia bercerita: "Dari Singapura aku ke Taiwan, dan mendapat pekerjaan. Suatu hari aku baca di koran, Julian Bream akan konser dan memberi master class. Aku ikut kelasnya, dan main di hadapan beliau. Komentar sang maestro tentang aku adalah ... persis seperti kata abang beberapa tahun sebelumnya."
"Apakah Mister Bream juga bilang agar gitaris sering-sering aja ke griya pijat sebelum kompetisi?" tanya aku menggoda.
Dia tersipu.
ADAKAH INI KEBETULAN?
Beberapa kejadian yang saya alami sepertinya kebetulan saja. Apakah kebetulan itu? Menurut ajaran Kristiani - apa yang terjadi di dunia ini tidak ada yang kebetulan.
Mari kita lihat: Empat hari aku di Bangkok, ternyata memiliki rangkaian kisah yang panjang dengan banyak pelakunya - bukan hanya aku. Dan hal ini berlangsung selama delapan tahun!!
Saya bertemu dengan Bapak Duta besar beserta ibu di sana. Delapan tahun setelah itu, saya berjumpa dengan puteri dan cucunya di rumah lama mereka - yang kemudian menjadi kantor Yayasan Musik Indonesia (YMI) sekaligus alamat sekolah musik Yamaha yang melegenda di Republik. Juga saya boleh mendampingi dua gitaris terbaik nasional yang berprestasi di Asia Tenggara, plus seorang bassist yang juga berprestasi pada masa itu.
Saya kira semua hal dan kejadian tersebut adalah atas ijin dari Tuhan. Maka saya sangat dan senantiasa bersyukur kepada-Nya.
Komentar
Posting Komentar