Bangsa yang Maju Pendidikannya
*G I T A R A N : Bangsa yang Maju Pendidikannya*
_(Bagian I)_
oleh: L. Arthur Sahelangi
Bapak Shinichi Onishi adalah staf Yamaha Musik Indonesia yang awal. Saya telah melihat beliau pada babak final Festival Gitar Indonesia, 10 Desember 1972. Ketika itu dia bertanggung-jawab atas _sound system_ di acara itu. November 1981 saya bertemu lagi dengan dia di Hamamatsu. Dia telah berkeluarga dengan isteri Indonesia dan dikaruniai sepasang anak. Pak Onishi menguasai rekorder dan alat tiup lainnya, selain mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan lancar. Pengetahuannya pun luas.
Pernah saya bertanya, bagaimana bangsa Jepang bisa sangat maju dan menonjol di Asia - terutama pada era 70, 80-an?
*Restorasi Meiji*
Onishi-san mengatakan bahwa ada kesadaran akan terbelakangnya bangsa Jepang dibanding barat mendorong timbulnya Restorasi Meiji. Restorasi mana dimulai pada 1868 yang tujuannya adalah menggabungkan "kemajuan barat" dengan nilai-nilai "tradisional timur."
Jadi, ketika Jepang membuka diri terhadap barat dalam perdagangan hasil-hasil bumi, kami juga menitipkan beberapa mahasiswa untuk belajar di barat.
Adapun negara terbanyak yang dipilih adalah Italia dan Jerman - dua negara sumber musik klasik. Setelah dua, tiga tahun di Eropa, para mahasiswa Jepang kembali dan menyusun kurikulum pendidikan musik yang disesuaikan dengan nilai-nilai tradisional mereka.
Jadi, Jepang menyadari bahwa kemajuan Eropa diawali dengan seni. Salah satu faktor kemajuan Jepang adalah peran dari para pejabat di departemen Pendidikan dan Kebudayaan , ujarnya.
*Pendidikan di Jepang*
Pelajaran sekolah siswa dari TK hingga SMA di Jepang adalah sama standarnya di seluruh Jepang. Standar siswa SMA di desa atau pun di kota kecil adalah sama dengan standar di Tokyo dan kota-kota besar lainnya. Universitas hanya ada di kota-kota besar. Maka untuk meneruskan kuliah siswa dari kota kecil harus pindah ke kota besar.
*Buku-buku-teks musik*
Sejak awal kantor YMI di jalan Bumi, Jakarta juga ada perpustakaan. Isinya beragam bukuteks alat musik dari beragam penerbit, tidak melulu Yamaha.
Saya pernah membaca beberapa, antara lain bukuteks flute, recorder serta alat tiup lainnnya. Di situ terlihat jelas metoda pengajarannya yang sistematis, jelas dan bertahap. Mereka sangat berpegang pada sistem. Daftar lagunya bisa berbeda, namun sistemnya jelas.
*Gadis Jepang staf Menteri*
Ada seorang gadis muda Jepang cantik pernah datang ke kelas saya. Ketika itu printer Hewlett-Packard baru muncul. Setiap sore waktu les, dia datang sambil merangkul printer-nya di tangan kanannya. Saya tidak tahu mengapa dia tidak menaruhnya di tas. Saya tanya, apa pekerjaannya. Dia menjawab, bahwa dia adalah seorang staf ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI (Tampaknya dia mengerti situasi _kamling_ - keamanan lingkungan di kantornya).
Bahasa Indonesia dan Inggris-nya lancar dengan intonasi standar. Artinya dia sudah menguasai kedua bahasa itu dengan sangat baik.
Saya bertanya, bagaimana sistem mata pelajaran musik di Jepang? Mata pelajaran musik sekolah formal di sana umumnya satu atau dua kali per minggu, ujarnya. Hampir semua sekolah itu memiliki piano pada satu ruang kelas saja. Maka ketika pelajaran musik, para siswa datang ke kelas itu. Dan ada guru yang memainkan piano. Ini penting agar siswa dapat mendengar harmoni lagu. Umumnya mereka diajar bernyanyi, kadang bermain ensembel.
_[ Pernah ada siswa gitar saya yang rambutnya gondrong keriting kecil-kecil bertanya: "Ada tetangga saya, guru di sebuah SD madrasah mengatakan bahwa sekolahnya membutuhkan guru musik untuk pelajaran seni suara. Saya ditawarkan. Saya tidak bisa nyanyi, tetapi saya mau coba. Ajarkan saya nyanyi dengan notasi angka ya, pak."_
_"Yang penting apakah kamu suka mengajar anak kecil?Kalau ya, oke, dan sebaiknya gunting dulu rambut Robert "Zeppelin" Plant " - mu itu, ujarku.]_
_(bersambung)_
LAS / 20 Agustus 2021
Komentar
Posting Komentar