YAMAHA SOUTH EAST ASIAN GUITAR FESTIVAL 1983 in Bangkok

YAMAHA SOUTH EAST ASIAN GUITAR FESTIVAL 1983 in Bangkok

(Bagian I)

Saya diundang oleh panitia dari Siam Kolkarn Music Foundation (SKMF) ke Bangkok sebagai salah seorang juri pada YAMAHA SOUTH EAST ASIAN GUITAR FESTIVAL (YSEAGF)1983. Ini merupakan penyelenggaraan YSEAGF ke-6 sejak 1977 di Jakarta. Juga merupakan penyelenggaraan yang kedua bagi Bangkok dari program ini. Sebelumnya, pada 1978 mereka pernah menjadi tuan rumah pada YSEAGF ke II. 

Saya juga harus mendampingi para juara YFGI 1982:  Alfred Eugene, 18 (Bagian Klasik) dari Pematang Siantar, dan duo Mahesh, 23 & Suresh Hotwani, 20 (Bagian Bebas). Ikut juga Robby Porawouw - Kepala Sekolah YMI jalan Bumi, dan Samsuddin Acong - kepala sekolah Era Musika, sub-lisensi YMI Medan. Samsuddin berangkat dari Medan.

GITAR YAMAHA GC 50
Sebelumnya saya berpikir: seorang  pembalap juara juga membutuhkan sepeda motor yang hebat. Ketika itu ada gitar klasik hand-made Yamaha GC 50 (tipe tertinggi di dunia waktu itu) di ruang pamer Yamaha di Jalan W. Monginsidi belum terjual. Saya pikir, Alfred akan cocok dengan alat ini - karena  crescendo-nya sering agak terlalu keras. Saya minta ijin untuk pinjam dibawa ke Bangkok, dan diijinkan. Kemudian saya mengingatkan Alfred dan teman yang lain agar berhati-hati dengan barang ini, karena harganya 55 juta, dan merupakan tanggung jawab saya.

Jum'at, 16 Desember sore kami tiba di bandara Halim Perdana Kusuma. Kepada petugas bea-cukai saya perlihatkan gitar tersebut berikut nomor seri-nya. Kemudian saya minta agar dia menuliskannya dan memberi cap imigrasi RI pada lembar terakhir paspor saya. Awalnya dia menolak, namun saya jelaskan bahwa kami akan bertanding membawa nama RI, bukan turis. Juga agar sewaktu kembali ke Jakarta, saya tidak dianggap membeli gitar baru dan dikenai pajak. Dia bersedia. 

Mantap. Boarding  on time dengan Garuda. Saya minta agar gitar ditenteng, jangan masuk ke bagasi.  Suresh menenteng gitar Yamaha dengan kardus dan diikat dengan tali rafia. Aku geleng kepala, "Suyes, Suyes, elo kaya tukang rokok mudik aja dengan kardus diuntel-untel rafia ijo. Eh, kita keluar negeri nih, bukan ke Purwokerto."  Semua senyum saja. Puji Tuhan! semua lancar. Pramugari mengijinkan kami menaruh 3 gitar di dapur belakang.

Satu jam kemudian kami tiba di bandara Changi, Singapura. Stop over satu jam untuk ganti pesawat dengan Thai Airways (TG414). Setelah itu tiba di bandara internasional Don Muang, Bangkok sekitar jam 21:00. Tidak ada perbedaan waktu antara Bangkok dan WIB. 

Masih di imigrasi tiba-tiba mata silau oleh kilatan blitz kamera. Kemudian kami berlima dikalungi satu per satu dengan bunga merah-putih oleh lima cewek muda yang tersenyum terus. [Adudu, serasa atlit nasional, neh?] Kilatan lampu tidak berhenti ketika berjalan keluar, juga kamera 35mm stasiun tv terus mengikuti kami sampai ke bus penjemputan.

Tiba di Hotel Ambassador bintang lima [semua pelayanan bagi peserta yang diberikan adalah kelas satu, sebab pemilik SKMF adalah adik perempuannya Raja].

Sabtu pagi breakfast jam 07:30 di Garden Cafe. Ketika aku sedang seruput kopi, tiba-tiba reporter cewe  dan juru kamera datang, langsung minta wawancara. Ok deh.

Selesai sarapan Koizumi-sensei temui aku, dan minta aku  pakai jas kumplit, karena kabarnya Khunying Phornthip Narongdej - atau Lady Phornthip,  adik-nya Raja, yang  pendiri SKMF akan hadir!  Sang Lady datang setelah Konferensi Pers. Saya melihat para cewek panitia menyalami beliau dengan takzim sambil membungkuk dan menekuk kaki kanan ke dalam.  Sangat aristokratis. 

Panitia pelaksananya hampir semua perempuan muda, cekatan, gesit, menarik, sopan dengan seragam rok dan blazer abu-abu serta baju dengan motif bunga-bunga hijau.
 
Dalam Orientation & Press Conference,  Mr. Songyos Virangkabutra - CEO Siam Kolkarn berulang kali memuji RI. "The Indonesian guitarists are very strong, they always win. They even ate mouth dynamite, which is very hot and spicy," katanya.

PENGAGUM MOCHTAR LUBIS
Malamnya Welcome Dinner di Indra Regent Hotel. Setelah bersantap ada pertunjukan tari tradisional oleh sekelompok wanita. Kemudian ada seorang pria menghampiri saya. Dia langsung menyapa dan menyebutkan namanya sambilberkata: "Saya kagum dengan puisi-puisinya Mochtar Lubis, terutama tentang Rembulan." Dia terus bercerita tentang kekaguman akan larik-lariknya mantan jurnalis RI ini. Setelah dia selesai berbicara, saya katakan: "Well, aku tahu Mochtar Lubis adalah seorang sastrawan terkemuka RI, lalu beliau mendirikan koran "Indonesia Raya". Namun beliau terlalu berani mengeritik pemerintah, sehingga pernah dipenjara oleh rejim Soekarno maupun Soeharto. Tetapi jujur, saya belum membaca puisi-puisinya. Nanti setelah kembali ke Jakarta, saya akan cari buku-bukunya."  Di situ saya kagum, ternyata orang asing pun kagum akan karya-karyanya seniman kita.

MINGGU, 18 DESEMBER
Setelah sarapan, kami pergi ke gedung National Theater untuk gladi-bersih. Dua jam kemudian kembali ke hotel. Setelah makan siang, kami harus sudah berkumpul di lobi hotel pada jam 14:00. Festival akan mulai jam 16:00.

Tiba-tiba saya terkejut tidak melihat Alfred. Saya minta dihubungi ke kamarnya, tidak ada jawaban. Tanya ke pak Robby, Mahesh & Suresh juga negatif. Cewek-cewek panitia bertanya kepada saya. Malu rasanya. Lalu aku titip pesan kepada manajer hotel untuk mengantar Alfred ke gedung, jika tampak batang hidungnya. Waktu itu saya agak grogi. Setelah 10 menit menunggu, bus berangkat tanpa Alfed. "Ai, tu dia ho, Alfred,"  ke mana kau?


(bersambung)



LAS/18 Juli 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mimbar Juara Festival Gitar Indonesia 1972-1983

YAMAHA SOUTH EAST ASIAN GUITAR FESTIVAL 1983 in Bangkok

TADAO KOIZUMI