YAMAHA SOUTH EAST ASIAN GUITAR FESTIVAL 1983 in Bangkok
YAMAHA SOUTH EAST ASIAN GUITAR FESTIVAL 1983 in Bangkok
_(Bagian II)_
ALFRED TELAH DEWASA
Perjalanan dari Ambassador Hotel menuju ke tempat kompetisi di National Theater sebenarnya tidak terlalu jauh, namun ditempuh sekitar 45'. Jalanan di Bangkok sepertinya lebih macet daripada di Jakarta. Setiap berjalan 300-400 meter ada lampu lalu-lintas di perempatan. Lampu menjadi hijau setelah 3 atau 4'. Saya hitung ada 7 atau 8 perempatan. Begitu terus menerus.
Tiba di gedung pertunjukkan, kawan kita "yang hilang sekejap" si Alfred muncul dengan setelan jas & celana putih menghampiri bus sambil senyum-senyum. Kami terkejut-senang-sebel juga. Dan aku berusaha untuk sabar. "Heh, dari mana saja kau? Kau buat kami kuatir". Sambil terus tersenyum dia berkata: "Tadi aku massage dulu, bang."
"Heh, dimana kau dipijat?"
"Di hotel kita"
"Di mana?"
"Di lantai 5."
"Iyeh, sudah mulai dewasa kau, pret!"
[sampai hari ini saya tidak tahu bagaimana dia bisa tiba lebih dulu di gedung daripada kami. Juga tidak pernah saya tanyakan, dan dia tak pernah jelaskan. Oke, dia selamat. Itu yang penting].
JURI "HARUS PERMISI"
Setelah technical meeting di ruang tertutup, kami keluar menuju ke meja juri. Ruang teaternya luas, kapasitas kursinya mungkin 500-600. Adapun meja juri terletak pada deret ketiga dari depan. Kursi pada dua deret pertama dibiarkan kosong.
Panitia meminta agar saya yang pertama berjalan dari kelima orang juri. Di ujung jalan masuk menuju meja saya lihat duduk sepasang suami-isteri. Saya mengerti bahwa kita harus melewati mereka dulu. Kursi lain di deret itu dibiarkan kosong. Sang ibu dan bapak berbaju dan kemeja batik. "Oh, ini pasti Bapak Duta Besar dan isteri," gugam saya dalam hati. "Permisi bu, permisi pak," ujar saya sambil melewati mereka. "Oh, silakan," kata si ibu. Demikian juga ke-empat juri lainnya harus melangkah di depan mereka berdua.
FESTIVAL
Festival segera dimulai tepat waktu dengan tampilnya para finalis Klasik satu per satu. Alfred tampil mantap seperti biasa dengan lagu wajib "Prelude nr.3 - nya Tarrega, dan "Valses Poeticos" -nya Granados, sebagai lagu pilihannya.
Lembar isian juri dari peserta terakhir sudah lebih dulu diambil oleh panitia, lagi-lagi wanita. Maka ketika kami tiba di meeting room hasilnya sudah ditulis pada white-board. Kerja tim cewek mereka sangat nge-pro dan cekatan. Di situ sudah ditulis kelima juri masing-masing memberikan nilai GP - Grand-Prize kepada Alfred. Dan Mark Yong dari Singapore memperoleh RU terbanyak, maka dialah Runner-up Klasik.
Mr. Songyos - sang GM menghampiri kami dan berkata: "All the audience knew that Indonesia is too strong. We can not compete with them, but we just hope for the RU one day."
Kemudian kami masuk kembali ke hall untuk lanjut ke Bagian Bebas Lagi-lagi "Permisi, bu. Permisi, pak."
Pada Bagian ini, Filipina tidak mengirimkan gitarisnya, maka yang tampil hanya 5 nomor peserta.
Duo Mahesh & Suresh menampilkan "No Mistery" -nya Chic Corea, dengan percaya diri dan mengagumkan serta tanpa beban.
Omar bin Abu Bakar, 22 - gitaris Singapura tampil dengan medley: "Feelings-Misty-Tea for Two".
Di ruang meeting, wajahnya sensei agak galau menentukan runner-up -nya. Kemudian aku berseru : "I choose Jiradej as the runner-up." Spontan sensei ikut berseru: "Yes, yes. I also choose Thailand." Kedua juri Thai: Duan dan Panich langsung tersenyum lega. Jiradej Setabundhu, 15 yang unyu-unyu berambut cepak memainkan medley: "Apache dan "The Good, the Bad and the Ugly". Setelah direkonfirmasi duo Indonesia sebagai GPW dan Jiradej sebagai RUW, semua puas. Aku berkata: "Sekarang kita bisa kembali ke hotel dengan aman."
Para juara ditampilkan di panggung. Mereka mendapat trophy segi empat yang tinggi, diberikan oleh Bapak Duta Besar RI untuk Thailand - Marsekal Angkatan Udara - Soebambang dan ibu. Di samping itu dari Nippon Gakki Co., Ltd. Alfred memperoleh gitar hand-made Yamaha GC 30, ketika itu berharga Rp.35 juta, dan Mahesh memperoleh gitar akustik juga hand-made Yamaha L-45 yang seharga dengan GC 30.
Saya minta bantuan Samsuddin Acong - guru piano sekaligus kepala sekolah YMI Medan untuk mengambil foto para juara dengan kamera Yashica yang saya bawa.
Jam 19:30 kembali ke hotel, dan saya kirim telex ke kantor YMI melalui Hotel. Bunyinya singkat: "Kami juara kedua-duanya!" Selang beberapa menit datang jawaban: "Selamat! Silakan berlibur satu malam di Singapura."
DIKERJAIN PANITIA
Senin, 19 Desember jam 08:30 semua peserta diajak tour ke Bangpa-In di kota Ayudhya untuk menyaksikan patung Buddha sepanjang 7 atau 8 meter yang sedang berbaring di tanah ke samping menatap Anda dengan tersenyum.
Malam harinya Farewell Party. Setelah santap malam, semua gitaris termasuk juri dikerjain oleh para cewek panitia. Sepertinya mereka mau melepaskan segala ketegangan, kepenatan enerji mereka dalam mempersiapkan acara ini.
Setiap gitaris diminta main atau nyanyi di panggung. Di awali dengan beberapa cewek menyanyi diiringi oleh home band. Tipikal lagu-lagu mereka mendayu-dayu mirip lagunya Rinto Harahap. Dan ketika para gitaris tampil, para cewek akan menyoraki sambil menjerit-jerit.
Omar bin Abu Bakar, Arab Singapur kecil item keriting ini jadi favoritnya para cewek. Berulang kali namanya ditereriaki "Omarrr..., Ouuumaarrr..."
Ernest (juri dari Singapore), saya dan dua juri Thai juga diteriaki. Kami nyanyi "Around the World" -nya Frank Sinatra. Lalu Mr. Hayashi - perwakilan dari pabrik Yamaha di Hamamatsu dan Koizumi-sensei.
Hayashi-san yang wajahnya dingin, cius banget diteriaki cewek-cewek: "Sing, Hayashi-san, siinnggg..." Dia bingung ingat-ingat lagu, makin disoraki. Kemudian dia nyanyi "Sakura". Barangkali karena jarang nyanyi, suaranya ngeri-ngeri fales - seperti orang menangis. Whua-haha-hai.. para cewek semakin menjerit dan terbahak-bahak sampai ada yang jongkok sambil tangannya menahan perut. Yang nyanyi sih tetap dingin aja. Giliran terakhir bagi Koizumi-sensei. Semua teriak: "Senseii..., senseiii...!!! Lalu dia ajak Hayashi-san nyanyi "Jamaika Farewell". Sensei ngocok akord-nya saja dengan wajah pucat. Pesta selesai dengan semua bersalaman sambil tertawa-tawa lemas.
Selasa, 20 Desember jam 08:00 kami chek-out menuju ke bandara dengan tujuan Singapura. Wah, sik-asik bisa belanja senar gitar impor murah di Swee Lee.
(bersambung)
Komentar
Posting Komentar