YAMAHA SOUTH EAST ASIAN GUITAR FESTIVAL 1983 in Bangkok
YAMAHA SOUTH EAST ASIAN GUITAR FESTIVAL 1983 in Bangkok
(Bagian III)
Tiba di Don Muang airport, saya melihat foto para juara gitar pada koran Bangkok Post di gerai toko. Aku beli koran itu. Satu jam kemudian kami tiba di Changi airport. Check-in ke hotel, segera cari makan di resto kecil di Orchard Road. Mahesh pesannya stabil: 1 porsi nasi goreng dan telur rebus mulu. Dia vegetarian. Setelah itu kami ke Swee Lee: 'firdaus-nya' harga alat musik dan senar gitar. Harga satu set senar D'Addario, La Bella, Aranjuez, dll., kala itu 60% dari harga di +62.
Setelah makan malam, Alfred dan Mahesh jam session "Concierto de Aranjuez." Aku di kamar merenung bagaimana caranya besok bisa lolos masuk dengan gitar ke dalam pesawat Singapore Airlines (SQ) yang terkenal ketat dengan bagasi penumpang. Sedangkan kami berlima dengan 5 gitar.
Terbang dengan gitar ditenteng di dalam pesawat Garuda dari Jakarta, lalu berlanjut dengan Thai Airways oke saja, tidak dikomentari, no problemo.
Kemudian ... Bingo!!! aku panggil mereka semua. "Besok kita terbang dengan SQ yang aturannya ketat. Siapkan paspor masing-masing pada kantong sebelah kiri jaket atau jas. Semua tiket dan boarding pass aku yang pegang."
"Begitu tiba di airport, gitar harus dipeluk berdiri di sebelah kanan badan, bukan ditenteng (agar gitar tidak terlihat mencolok dari sebelah kiri!) Jalan kalian juga harus miring, kaki kiri lebih maju ke depan beriringan mengikuti aku. Selama di airport dan dalam pesawat jangan bicara jika tidak perlu, jelas?" Setelah latihan, kami kembali ke kamar masing-masing.
Besok paginya tiba di counter-desk SQ. Cewek yang badannya kecil tanya, "Any baggage, sir? "No. Only hand-bag," kata-ku sambil mengangkat traveling bag. Dia curiga, berdiri berdiri dan berjinjit (meja konternya tinggi) lalu menjerit: "Sirrr ..!, you brought so many guitars. You have to put them in the baggage." Langsung aku samber: 'Eh, lo tau gak kita ini juara gitar di Bangkok." Aku perlihatkan koran Bangkok Post kemarin. "Lihat nih, tanggal korannya kemarin. Pandangi wajah-wajah mereka! Sama kan?" Ga ngaruh. "But you can not put your stuff in the aircraft. Put your guitars in the baggage." Bawel dan perngototan amat nih, ya terpaksa tenggorokan-ku terbuka fortesissimo!!
"Eh, lo tau gak semua gitar ini hand-made harganya puluhan ribu USD. Kalau baret atau retak, ogut klaim dan lo yang harus ganti. Ogut catet nih nama ente." Dia mikir sebentar, terus bilang "ok" dengan cemberut.
"Tra-la-la" rintangan kesatu lolos. Lalu ke ruang tunggu, dan kami berjalan melalui belalai gajah menuju ke pesawat. Jika ada rekaman CCTV di Changi pada Kamis, 21 Desember 1983 bisa dilihat ada lima pria jalan miring seperti lima bebek berurutan sambil memeluk gitar. Pernah lihat mobil yang bagian depannya tabrakan parah, maka chasis-nya miring (biasanya Metro Mini) sehingga jalannya miring? Nah, begitulah jalannya kita.
Boarding pass sudah disobek di pintu masuk pesawat oleh pramugara yang matanya melotot ke gitar. Cuek bleh.. senyum dikit terus cepat melangkah mantap ke belakang pesawat. Tiga pramugari langsung berseru: "Sir, sir! You may not put the guitar at the back." Tetapi ada satu pramugari yang jangkung membuka kedua tangannya, minta gitar juara yang aku tenteng (wah, ternyata ada juga yang simpati).
Sepertinya dia sudah pengalaman. Dia bawa gitarnya ke bagian terakhir first class - yaitu tempat koran-koran dan majalah. Dia taruh gitarnya ke dalam tempat itu dan "bleg", masuk pas! Lalu aku bawa lagi gitar kedua, kembali dia menaruh di seberangnya. "Thank-you, appreciate, Miss!" kataku kepada dia. Masih ada tiga gitar yang tidak boleh ditaruh di bawah kursi. Harus dipegang berdiri. Mahesh pegang satu, pak Robby, dan Suresh kembali pegang gitar plus kardusnya berdiri 90° di antara kedua pahanya.
Tiba di Halim, kembali aku kibarkan koran Bangkok itu. Para petugas imigrasi bertanya, ada apa? Aku bilang, "Kami juara gitar Asia Tenggara kemarin di Bangkok."
"Oh Selamat ya. Ok, tidak bawa apa-apa, kan?"
"Tidak, pak".
"Baik, silakan jalan terus." Koper dan tas tidak diperiksa.
Setelah hampir seminggu tegang di dua negara dan sempat jalan bebek style lega rasanya bisa kembali dengan selamat dan juga berhasil meraih kemenangan di luar negeri. Bravo!
Robby mengantar Alfred ke hotel dengan taksi. Mahesh dan Suresh dengan taksi berikutnya. Dan aku naik taksi ketiga sendirian pulang ke rumah.
(bersambung)
Komentar
Posting Komentar