PRODUKSI PERDANA GITAR YAMAHA INDONESIA (Bagian III)

PRODUKSI PERDANA GITAR YAMAHA INDONESIA

_(Bagian III)_

Aku diberi surat kontrak yang menyatakan bahwa aku diangkat sebagai tenaga spesialis bidang gitar.  Adapun tugas aku adalah mengecek suara gitar.

Maka jika ada pengiriman gitar dari Bandung, maka aku ditelepon untuk mengeceknya di pabrik PT. Yamaha Indonesia di kawasan industri Pulo Gadung. Setiap aku datang ke pabrik diberi honor yang lumayan pada akhir bulan. Tergantung jumlah pengiriman. Semakin sering datang kiriman dari Bandung, honor akan bertambah banyak. Namun pengirimannya biasanya hanya dua kali per bulan. Masih ada tambahan ongkos taksi. 

Pegawai gitarnya baru satu orang, namanya Mohammad Sabur. Pengiriman pertamanya 3 karton (18 gitar). Saya cek dengan tuner ok. Tala gitar-gitarnya baik. Aku mainkan tangga-nada kromatis dari senar enam sampai senar kesatu pada setiap fret -nya. Yang acap terjadi adalah nada sember di senar ketiga dan kedua pada fret kesatu - yakni pada nada-nada sol#  dan do. 

Kemudian aku ambil lembar dokumen setiap gitar sesuai nomor seri-nya. Kutulis di situ ada nada-nada sember pada senar dan fret-nya. Lalu gitar-gitar itu dibungkus dan dikirim kembali ke Bandung untuk diperbaiki. Dua minggu kemudian saya datang ke PT. YI. Begitu dokumen dibuka, ada tulisan di bawah tulisan saya sebelumnya. Bunyinya: "Sudah maksimal!",  tertanda: Nasution.

Lha, ya sudah. Saya minta si Sabur untuk mengendurkan semua senar, juga saya minta kikir yang paling halus. Setelah senar kendor itu kita jauhi ke bawah, saya mulai mengikir fret yang bermasalah.  Sabur memasang kembali senarnya. Ajaib! sembernya di fret satu hilang! Tetapi pindah ke fret kedua!!  Jiaahh.. Begitu seterusnya. Aku mengikir sampai fret ketiga saja. Toh pemula mainnya hanya di posisi kesatu melulu.

Setiap aku kembali ke kantor YMI di Jl. Monginsidi, beberapa manajer Jepang langsung bertanya: "Berapa (gitar) yang lolos?"  "Empat", jawabku. "Wah, bagaimana kita mau bisnis," sahutnya.

PABRIK GITAR YAMAHA
Pabrik pertama PT. Yamaha Indonesia (YI) adalah untuk produksi dan asembling electone dan piano di jl. Rawagelam I, Kawasan Industri Pulo Gadung. Proses pengecekan gitar sementara menumpang di lokasi tersebut.

Enam bulan kemudian, lokasi khusus untuk pabrik gitar pindah ke jalan Pulo Buaran, sekitar 1 km dari Rawagelam. Buruh gitarnya pun sudah ratusan.

Pernah aku menemukan satu C40 yang bunyinya amat nyaring di Jatinegara Music Center.
Setiba di rumah, pendengaran-ku mengatakan gitar ini sumbang. Karena semangat, aku ganti senarnya, dan cek dengan tuner. Tetap saja fales. Aku telepon si Sabur. 

Ada teknisi gitar Jepang khusus baru datang dari Taiwan. Setelah dia mendengar penjelasan aku, dia mengeluarkan penggaris logam sepanjang 1 meter. Lalu dia keluarkan lagi garisan 100 milimeter dari saku bajunya. Setelah 5 menitan mengukur-ukur gitarnya, dia berkata: "Dame, dame desu,"  "Tidak, tidak boleh." Mengapa?

Dia jelaskan, ketika neck gitar dipasang ke body-nya ada kelebihan sekian milimeter ke body gitar. Akibatnya, nada-nada gitar menjadi  tidak akurat terutama pada fret tinggi.
Solusinya? Tinggalkan gitar Anda di sini, dan silakan pilih sendiri gitar yang sama sekarang. (Aku merasa seperti menukar roti di pabriknya ).

Kemudian gitar eks aku itu ditaruh dalam ruang kaca di ruang direksi. Setiap ada buruh baru, diperdengarkan gitar itu, agar menjadi bunyi 'standar'.  Beberapa waktu berselang, aku bertanya ke Sabur, apakah gitar 'standar' aku masih ada di ruang direksi?   "Udah ga lagi, pak. Ada pegawai yang menukarnya."

GITAR PILEK
Suatu hari direktur pabrik berkata: "Pak, ini adalah gitar produksi buatan Indonesia, bukan Taiwan atau Jepang. Jadi mohon jangan terlalu ketat seleksinya."

Ya, aku paham artinya. Setelah lebih dari setahun aku tidak dipanggil lagi, tiba-tiba ada telepon. "Pak, harap datang ke pabrik. Ada hal penting." (Penting untuk kalian, kan?)

Ketika aku datang, ada selusin gitar sudah disandarkan miring ke tembok. Sambil berjalan aku bunyikan open string setiap gitar. Aku heran, bunyinya "mendem" (terpendam).

Lalu aku duduk di kursi. Di depanku berdiri 5 orang supervisor gitar. "Ceritakan apa yang terjadi," ujarku.  Setelah saling tolak, Sabur menjelaskan: "Umumnya selesai proses pengamplasan, kami memberi cat dasar. Setelah menunggu 1 x 24 jam, barulah cat terakhir digunakan. Namun karena waktu itu kami dikejar target, maka baru 8 jam cat dasar, kami membawa selusin gitar itu ke ruang oven, juga kami sinari dengan lampu sorot dengan Watt besar."

"Perkiraan kami permukaan kayu sudah kering, lalu kami cat. Namun bunyinya mengapa jadi seperti ini?"

Hal ini membuktikan bahwa proses pembuatan instrumen akustik juga harus mengikuti proses alam. Kayu memiliki pori-pori, sehingga cat dasar itu harusnya telah mengering juga pada pori-porinya. Proses alam tidak bisa diingkari.

Akhirnya manajer Jepang dipanggil, dan setelah mendengar laporan, dia memerintahkan agar 12 gitar pilek itu dipotong dengan gergaji listrik.

Produksi gitar Yamaha buatan Indonesia semakin meningkat jumlah dan juga mutunya dari tahun ke tahun. Pada tahun 2007 saja produksi gitar PT. Yamaha Indonesia telah mencapai 400.000 gitar per tahun, dengan nilai ekspor USD 20 juta (KOMPAS, 21 Oktober 2007).


LAS/ 9 September 2021

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mimbar Juara Festival Gitar Indonesia 1972-1983

YAMAHA SOUTH EAST ASIAN GUITAR FESTIVAL 1983 in Bangkok

TADAO KOIZUMI