PRODUKSI PERDANA GITAR YAMAHA INDONESIA (Bagian II)

PRODUKSI PERDANA GITAR YAMAHA INDONESIA

(Bagian II)

Waktu itu di white board tertulis tiga tipe gitar: C40, C60, dan C80, dengan harga masing-masing Rp. 40.000, Rp. 60.000, dan Rp. 85.000.

Ketika senar original Yamaha telah aku pasang, bunyi gitarnya langsung naik. Watanabe langsung senyum puas sambil mengangguk-angguk. Ketika semua masih terkejut akan bunyinya, Ono-san, sang Wakil Direktur PT. YI langsung menuju ke white board, mengoreksi harga menjadi Rp. 40.000 + Rp. 5.000 (with Yamaha original strings). Semua tertawa dan mengiyakan.

Jadi mereka setuju gitar baru ini harus tetap menggunakan senar original Yamaha dari Taiwan.

GITAR INDONESIA di PAMERAN
Sekitar Oktober 1986 diadakan Yamaha Fair (acara tahunan) di hall President Hotel di jl. Thamrin. Aku diminta ikut jaga pamerannya,  diberi meja kecil dan gitar C40 prototip itu. 

Leaflet belum ada. Hampir semua pengunjung hanya melihat Electone dan Piano saja. Kemudian  beberapa bapak muda  tertarik dan heran. "Gitar Yamaha buatan Indonesia, apa benar tuh?  Sejak kapan kita bisa buat gitar Yamaha?"

Era itu ditandai dengan pengamen yang main gitar di atas bis kota. Maka konotasi "pengamen" menjadi buruk.

Ada seorang ibu muda menegur suaminya yang sedang terus bertanya ke aku. "Ini ma, ternyata gitar Yamaha sekarang sudah ada yang buatan Indonesia, lho. Aku sudah pesan", ujar sang suami dengan sedikit bangga. Lalu si isteri menjawab ketus, "Mau ngapain papa beli gitar buatan lokal. Memangnya mau ngamen, pa?"

DIKONTRAK SEBAGAI SPESIALIS
Direksi memanggil aku. Gitar-gitar Yamaha awal itu dikerjakan oleh PT. Genta di Bandung. Setelah ada yang selesai gitar-gitar itu dikirim ke PT. Yamaha Indonesia (YI) di Pulo Gadung. Aku diminta memeriksa gitar-gitar itu, apakah sudah layak untuk dijual.  Aku diberi kontrak sebagai tenaga spesialis. "It is your responsibility for the sound. You didn't need to check for the painting, etc. It is just you who decide the quality of its sound," kata manajemen.

Nah lo! Yang buat gitarnya orang lain. Yang harus tanggung-jawab bunyinya aku. E-dodo-e! Akan tetapi aku terima kepercayaan mereka, sebab aku yakin sejak pertama kali memegang gitar prototip-nya, bahwa gitar ini layak dengan harga yang pantas. Lagi pula, aku tahu bahwa semua kayu, lem, cat, senar, dll tetap diimpor dari Taiwan. Hanya pemasangannya saja di Bandung, dan finalisasinya di PT. YI. 

Jadi, seperti orang memakai jins Levy's asli, membelinya di mal Pondok Indah walaupun made in Tangerang. Aku pernah beli t-shirt tim bola der Panzer yang murah di sana. Tiba di rumah aku baca di dalamnya:  made in Indonesia.  Beli kaos tim Jerman di sana buatan RI. Aku jadi agak terharu bercampur bangga.

"Jaga kualitas, jaga kualitas" - itulah semboyan manajemen yang aku tahu  -  walau tidak diucapkan. Maka aku harus buat kriteria utama dulu untuk kontrol kualitas, yaitu: Gitarnya tidak boleh sember!! Itulah "Undang-undang dasar" pasal kesatu Arthur Sahelangi.


_(bersambung)_




LAS/ 23 Agustus 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mimbar Juara Festival Gitar Indonesia 1972-1983

YAMAHA SOUTH EAST ASIAN GUITAR FESTIVAL 1983 in Bangkok

TADAO KOIZUMI