JACK LESMANA
JACK LESMANA ~ Wali-nya Jazz Indonesia
Jack Lesmana dilahirkan pada 18 Oktober 1930 di Jember, Jawa Timur. Sejak usia 10 dia sudah bisa gitaran, lalu dua tahun kemudian bergabung dengan kelompok Dixieland.
Era 60an sampai dengan akhir 70an nama dan kelompok jazz -nya terkenal di mana-mana. Mulai dari band Gema Irama, Irama Lenso, Jack Lesmana Quintet bersama pianis Bubi Chen, saksofonis Maryono, bassis Jopie Chen, dan drummer Benny Mustafa. Hingga The Indonesian All Stars.
Pada 1976 dia diangkat oleh Oemar Kassim - pemilik sekolah musik YASMI (Yayasan Seni Musik Indonesia) menjadi Direktur Pendidikan di situ. Waktu itu para guru YMI juga boleh mengajar di YASMI di jalan Kyai Tapa, Grogol.
Di situ rajanya Nelson Rumantir dan Viria Pita (alm.). Aku mengajar pagi hari. Di situlah aku berjumpa dengan Oom Jack dan Benny Likumahuwa yang mengajar _contra bass_ (bas betot). Mereka juga di situ hanya sampai jam 11:30.
Ketika dia tahu aku tinggal di Tebet Timur, dia selalu mengajak saya untuk datang ke rumahnya di jalan Melati, Tebet Barat.
Rumahnya merangkap studio rekaman di bagian belakangnya. Sering dia mengajak aku berdiskusi tentang musik di ruang monitornya. Indra - puteranya ketika itu kelas 2 SD datang ke studio dan duduk di pangkuan sang ayah. Lalu oom Jack berkata: "Indra, coba tunjukan improvisasi diminished scale - yang jaraknya satu tone, satu semi-tone ke Oom Arthur." Maka Indra mulai menekan tuts keyboard seperti yang diminta. "Sekarang balik, Indra, jaraknya satu semi-tone, satu tone." Kembali Indra mendemonstrasikannya sambil tersenyum.
Oom Jack sangat bangga akan Indra. "Anak lain bisa saja lebih berbakat daripada dia, tetapi Indra mempunyai ayah yang mengerti musik," ujarnya. _"Well,_ anak yang hebat, bapake juga. Gitu kan maksudnya?" celutuk aku. Beliau tertawa.
Sering aku ditahan ngobrol dan baru pulang setelah larut malam.
Melewati kamar tidurnya Indra yang pintunya terbuka. Dia tertidur dengan head-phone di kepalanya dari radio. Kembali si ayah berujar, "Anak-ku tertidur dan bangun dengan musik." Luar biasa kecintaan keluarga ini akan musik.
Sejak 1975, 15 guru gitar YMI mendirikan Ikatan Gitaris Indonesia (IGI) dengan ketua Danny Tumiwa, SH. Ada akte notarisnya. Lalu IGI selenggarakan konser dua hari di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Setelah itu di Surabaya, Semarang yang semuanya laris. Juga ada empat gitaris tampil di Medan.
Di samping itu, kami menyelenggarakan beberapa klinik gitar. Termasuk oom Jack memberi seminar tentang Improvisasi jazz kepada rekan guru di rumahnya H. Ronny Irianto di komplek Siliwangi, Lapangan Banteng.
TAMPIL di TVRI
Suatu hari pada Agustus 1981dia berkata, "Coba jij cari 3 orang van jouw vriend yang bisa baca notasi balok. Kita akan main kuartet elektrik gitar. Dulu ketika awal pembukaan TVRI pada 1962 aku pernah memainkannya bersama Mus Mualim (alm. suaminya Titiek Puspa - yang lebih terkenal sebagai pianis jazz), Ireng Maulana, dan Sadikin Zuhra."
Maka saya ajak dua guru YMI - H.Ronny Irianto, Johnny Legoh, dan sahabat saya, Didiet Soewondo - mantan mahasiswa IKJ.
Kami memainkan dua lagu, "The Shadow of Your Smile" dan "Samba de Montagne" yang diaransemen untuk 4 elektrik gitar.
Sebelumnya kami merekam terlebih dulu audionya di studio Celebrity di jalan Iskandarsyah, Blok M.
Oom Jack pada solo gitar, Indra pada keyboard, Raidy Noor pada gitar bas, Benny Mustafa pada drum, dan Karim Suweleh pada bongo.
Seorang siswa aku mengambil foto dari pesawat teve di rumahnya.
MUSISI yang ENERJIK
Dia pernah bertanya, "Pernah terbayang apa yang akan terjadi jika satu hari tidak ada musik?" Dijawabnya sendiri, "Saya kira akan terjadi sedikit kekacauan."
Jack Lesmana adalah pribadi yang enerjetik, selalu bersemangat dalam berbicara tentang musik. Juga ingin berbagi - baik teori musik dan progresi akord. Dia tidak mau menyimpannya sendiri: tipikal seorang teman sekaligus guru yang menginspirasi.
Pada era itu Koes plus dan Panbers yang sedang berjaya. Hanya sedikit orang yang tertarik akan jazz. Dia berkata: "Saya ini wong Jawa Timur, doyan petis. Kalau sampeyan tidak suka petis, ya ora popo, tetapi jangan bilang petis itu racun. Jika Anda tidak suka jazz, harap jangan bilang jazz itu racun."
JAZZ CLUB AWAL
Pada awal 80, dia tersenyum cerah: "Wah, Garden Hotel di Kemang bersedia memberikan gudangnya untuk kita pakai. Kita akan buat Jazz Club di situ. Ada restoran sambil dengar live jazz setiap hari nantinya."
Pada acara pembukaannya beliau minta saya menjemput dia bersama tante Nien - isterinya. Selesai nge-jam beberapa lagu dalam perjalanan pulang dia berujar, "Tadi si Benny (Mustafa) ditunjuk sebagai manajernya, dan dia berkata, harap saja pengunjung yang datang juga memesan makanan. Kalau cuma pesan Coca-Cola dan kacang goreng melulu tetapi duduk 2, 3 jam, ya berapa lama Club ini bisa bertahan?"
Suatu ketika beliau menelepon aku, "Hei, thur. Ik baru beli Gibson Les Paul di Singapur. Kalau jij udah selesai ngajar, datang ke rumah lalu kita ke Club, ya. Pengen nyobain barang baru, nih." "Mau nampang dengan Les Paul, ya Meneer?"
BE YOURSELF
"Aku gak senang dibilang mainnya mirip George Benson atau Jim Hall. Aku lebih suka orang bilang 'wah, oom Jack mainnya jelek.' Gak apa. Aku lebih senang dikatakan 'jelek sebagai Jack Lesmana' daripada bagus seperti si A, si B atau si C."
BOYONG ke AUSSIE
Suatu ketika ada grup Dixieland dari Australia tampil di TIM. Oom Jack ajak aku nonton. Dia dan Indra tampil dalam "Burung Kakatua" dan satu lagu lagi. Kakinya Indra masih menggantung di kursi keyboard-nya. Tetapi dari situ, para musisi terkesan, dan mengusahakan agar Indra bisa memperoleh bea-siswa di Australia.
Kemudian datang grup jazz rock "The Galapagos Duck" juga dari sana, yang memberi lampu hijau Indra bisa audisi di sana. Setelah itu Indra diterima di New South Wales Conservatory School of Music di Sydney (Wikipedia). Bahkan si ayah juga diterima sebagai pengajar gitar jazz di sana. Maka mereka menjual rumah di jalan Melati 10, Tebet Barat itu dan pindah ke Australia. Beliau sempat agak sedih menjual rumahnya yang menyimpan banyak kenangan, yang disebutnya sebagai "rumah jazz".
Dua tahun kemudian keluarga jazz ini sempat mudik ke Jakarta. Sayang karena mereka sibuk menerima banyak tamu di Sari Pacific Hotel, saya hanya sempat mengucapkan _"G'day! Welcome home"_ kepada Mira Lesmana via telepon.
Tanggal 17 Juli 1988 Jack Lesmana meninggal dunia akibat Cryoglobulinemia - kekacauan cryoglobulins yang menyerang peredaran darah manusia, dan penyakit diabetes (Wikipedia). Jack Lesmana meninggal pada usia 57. Beliau dikuburkan di TPU Tanah Kusir.
Majalah TEMPO dalam judul obituarinya menulis: Jack Lesmana: Perginya Sang Wali.
Komentar
Posting Komentar